Nasyid Dan Realita

Selalu menarik memang, kalau setiap ada sesuatu hal yang dibilang baru di kalangan masyarakat kita kemudian “ naik daun ”. Maka, tidak menutup kemungkinan pelbagai kritikan, pujian bahkan sampai cacianpun akan sampai padanya. Hal ini sudah tidak aneh di zaman sekarang. Sesuatu yang baru kemudian hal itu bagus, maka ada kesempatan hal tersebut untuk di caci maki atau di puji. Itulah kiranya yang bisa menggambarkan peranan seni nasyid dewasa ini. Mau tidak mau, kini kehadiran nasyid telah menjadi satu bagian yang sangat berbeda dari yang lain.

Tentunya, ini adalah satu kebahagiaan bagi kita dan anugerah buat kita semua. Ternyata, selama ini perjuangan kita untuk memberikan solusi hiburan hampir menduduki puncaknya. Akan tetapi, tidak lantas perjuangan kita berhenti sampai disitu saja, justru dengan keadaan kita yang bisa dikatakan sedang “ diatas angin ” akan semakin bertambah berat perjuangan kita. Banyaknya pertanyaan – pertanyaan yang harus kita jawab, cacian – cacian yang harus kita terima dan kritikan – kritikan pedas yang mampir di telinga kita begitu juga banyaknya sanjungan – sanjungan yang menerbangkan hati kita. Itu semua akan hadir ditelinga kita saat ini.

Hadirnya nasyid atau lagu – lagu relijius di tengah kemajemukan sebagian masyarakat kita, mampu membawa angin segar bagi kita. Dengan begitu, beban kita sudah mulai terasa ringan karena sebagian masyarakat kita sudah mau mendengarkan nasehat – nasehat Illahi meskipun itu hanya satu bulan saja yaitu di bulan ramadhan.

Kini, disaat – saat nasyid atau lagu – lagu “ relijius ” tengah di gandrungi oleh masyarakat kita yang pada hakekatnya adalah menuntut kita untuk benar – benar resfek atau jeli dalam menilai sebuah seni secara objektif sehingga nilai – nilai seni nasyid yang selama ini kita perjuangkan masih melekat pada tataran praktiknya. Bukan lantas karena sedang di gandrunginya kemudian kita kehilangan arah perjuangan kita yang sedari dulu sudah di agendakan. Ini adalah tugas kita.

Sekarang banyak sekali bermunculan lagu lagu yang bernapaskan reliji. Sampai – sampai group musik yang awalnya menyanyikan lagu – lagu “ sekuler ”. Sekarang sudah mulai menciptakan dan menyanyikan lagu – lagu relijius. Resfek sebagian masyarakat kita pun sangat baik terhadap mereka karena mungkin mereka lebih dikenal. Ini bertanda bahwa sebagian masyarakat kita masih dibutakan oleh sosok “ budak – budak entertainment ” sehingga penilaian mereka kepada kita masih kurang.

Jujur, selama ini kita masih belum bisa untuk menembus dunia entertainment yang masih berbau cinta, cinta dan cinta. Yang kita lakukan selama ini hanya bisa menyaksikan dan sedikit bahagia karena lagu – lagu relijius kini tengah asyiknya di kalangan masyarakat. Tetapi, dengan begitu kita juga sedikit terlena akan tujuan kita yaitu kita dilahirkan bukan seperti mereka, tetapi kita dilahirkan untuk mereka. Mereka menghibur karena tuntutan pasar sedang kita menghibur karena tuntutan perjuangan dan lillahi ta’ala. Itu perbedaan kita dengan mereka.

[+/-] Selengkapnya...

Lebih Hebat Dari Berzina

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s.

Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk". Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya." "Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa as terkejut. "Saya takut mengatakannya." jawab wanita cantik. "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya ......telah berzina." Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

Perempuan itu meneruskan, "Dari perzinaan itu saya pun......lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya....... cekik lehernya sampai......tewas", ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musaberapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik," Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!"...teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

Perempuan berewajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?" Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

"Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?" "Ada!" jawab Jibril dengan tegas. "Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran. "Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina".

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH > Abdurrahman Arroisy) Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah.

Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia.

Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.

Tolong sebarkan kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahui.

[+/-] Selengkapnya...

Jangan Marah ....

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)

Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan, “Bukanlah maksud beliau adalah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan.”

Tips Menanggulangi Kemarahan

Syaikh Wahiid Baali hafizhohulloh menyebutkan beberapa tips untuk menanggulangi marah. Diantaranya ialah:

1. Membaca ta’awudz yaitu, “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim”.
2. Mengingat besarnya pahala orang yang bisa menahan luapan marahnya.
3. Mengambil sikap diam, tidak berbicara.
4. Duduk atau berbaring.
5. Memikirkan betapa jelek penampilannya apabila sedang dalam keadaan marah.
6. Mengingat agungnya balasan bagi orang yang mau memaafkan kesalahan orang yang bodoh.
7. Meninggalkan berbagai bentuk celaan, makian, tuduhan, laknat dan cercaan karena itu semua termasuk perangai orang-orang bodoh.

Syaikh As Sa’di rohimahulloh mengatakan, “Sebaik-baik orang ialah yang keinginannya tunduk mengikuti ajaran Rasul shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang menjadikan murka dan pembelaannya dilakukan demi mempertahankan kebenaran dari rongrongan kebatilan. Sedangkan sejelek-jelek orang ialah yang suka melampiaskan hawa nafsu dan kemarahannya. Laa haula wa laa quwwata illa billaah” (lihat Durrah Salafiyah).
Sumber: Buletin At-Tauhid
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

[+/-] Selengkapnya...

Berkata Baik Atau Diam

Manusia berbicara setiap masa, bicara yang baik akan membawa keselamatan dari kebaikan kepada manusia. Jika bicara manusia tidak mengikut adapnya, manusia akan merana di dunia dan di akhirat di dunia akan dibenci oleh manusia lain mankala di akhirat bicara yang menyakiti hati orang lain akan menyebabkan kita tersiksa di dalam neraka Allah SWT.

Bagi mereka yang beriman, lidah yang dikurniakan Allah itu tidak digunakan untuk berbicara sesuka hati dan sia-sia. Sebaliknya digunakan untuk mengeluarkan mutiara-mutiara yang berhikmah.
Oleh itu, DIAM adalah benteng bagi lidah manusia dari pada mengucapkan perkataan yang sia-sia.

HIKMAH DIAM
1. Sebagai ibadah tanpa bersusah payah
2. Perhiasan tanpa berhias
3. Kehebatan tanpa kerajaan
4. Benteng tanpa pagar
5. Kekayaan tanpa meminta maaf kepada orang
6. Istirahat bagi kedua malaikan pencatat amal
7. Menutupi segala aib
Hadis-hadis Rasulullah mengenai kelebihan diam yang bermaksud :
“Barang siapa yang banyak perkataannya, niscaya banyaklah silapnya (salahnya). Barang siapa yang banyak silapnya (salahnya), niscaya banyaklah dosanya. Dan barang siapa yang banyak dosanya, niscaya neraka lebih utama baginya”. (Riwayat Abu Naim)
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. (Riwayat At-Tarmizi)
Manusia tidak akan dapat mengalahkan syaitan kecuali dengan diam. Jalan yang terbaik ialah diam kalau kita tidak dapat bercakap kearah perkara-perkara yang baik dan bersih yang bergantung kepada kekuatan iman pada diri manusia.
Dari Abdullah bin ‘Amr R.A, Rasulullah SAW. Bersabda : “Sampaikan pesanku biarpun satu ayat …”

[+/-] Selengkapnya...